Home Sejarah 16 Juli 1896, Beroperasinya Rel KA yang Melintasi Purwokerto dan Sekitarnya

16 Juli 1896, Beroperasinya Rel KA yang Melintasi Purwokerto dan Sekitarnya

215
0
SHARE
16 Juli 1896, Beroperasinya Rel KA yang Melintasi Purwokerto dan Sekitarnya

Keterangan Gambar : Stasiun Purwokerto tahun 1900an

ERWESONGO - Rute perjalanan kereta api dari Semarang menuju Tanggung, Jawa Tengah, yang berjarak 26 kilometer menjadi salah satu titik awal perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Berawal dari pembangunan rel pertama kali yang diresmikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Sloet Van Beele pada 14 Juni 1868.

Pembangunan rel petama ini diinisiasi oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dipimpin oleh J.P de Bordes. Sejak itu, perusahaan kereta api masa Hindia Belanda mulai bermunculan dan mengembangkan sayap bisnisnya. Salah satu perusahaan itu adalah Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS).

Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS)

SDS merupakan sebuah perusahaan swasta kereta api yang yang dibangun oleh Pemerintah Belanda untuk kepentingan ekonomi di daerah Banyumas, Purwokerto, serta Banjarnegara. Pendirian SDS juga untuk menunjang lebih cepatnya distribusi gula antar pabrik gula di Purwokerto, Kalibagor, Klampok, dan pabrik gula Bolong, Jawa Tengah.

Pada 1893, SDS mulai membangun jalur kereta api dalam tiga tahap. Rute rel kera ini melintasi 5 kabupaten yaitu Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo. Pembangunan jalur ini dibiayai oleh Financiele Maaatscappij van Nijverheidsondernemingen in Ned. Indies sebesar 1.500.000 gulden.

Setelah pembangunan tahap 1 berlangsung selama 3 tahun, tepatnya 16 Juli 1896, SDS meresmikan jalur pertamanya. Jalur ini menghubungkan Stasiun Maos menuju Purwokerto Timur sepanjang 29 kilometer. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan Purwokerto Timur menuju Pabrik Gula Kalibagor yang panjangnya mencapai 9 kilometer.

Setelah tahap I selesai pada 1898, SDS melanjutkan pembangunan tahap II. Kota Purbalingga yang ketika itu mempunyai pabrik gula menjadi fokus pembangunan rute ini. Hingga akhirnya, jalur dari Banjarsari sampai Purbalingga sepanjang 7 kilometer diresmikan pada 1900. Sesi terakhir adalah tahap ke III yang menghubungkan Wonosobo dengan Banjarnegara.

Ketika itu, produk hasil bumi Wonosobo diminati pasar. Dengan harga jual yang tinggi, pengangkutan hasil bumi ke Batavia membutuhkan transportasi yang cepat. SDS membangun jalur ini dengan panjang akhir sekitar 31 kilometer dengan tujuan sampai di Pelabuhan Cilacap.

Sekarang
Pada 1978, jalur eks SDS ini ditutup. Beberapa lokomotif dan aset yang pernah digunakan SDS diakusisi oleh PT Kereta Api Indonesia Daop 5 Purwokerto. Lokomotif SDS 203 dan Lokomotif Kereta Uap seri C 1411 merupakan lokomotif yang pernah dioperasikan soleh SDS. Kini, C 1411 ditempatkan di depan Kantor DAOP 5 Purwokerto.

Sumber : KOMPAS

Video Terkait: